Team Kajian Gerakan Masyarakat Sadar Gizi: Difteri Masih Akan Menjadi Masalah Kesehatan Tahun 2018

SadarGizi.com – Akhir-akhir ini, penyakit difteri tengah mewabah dan menjadi sorotan. Pasalnya, banyak daerah di Indonesia telah melaporkan kasus ini. Selain sudah memakan korban jiwa, penyebarannya pun sangat cepat.

Data dari kementrian kesehatan, menyebutkan bahwa penyebaran wabah penyakit difteri mengalami peningkatan siginifikan pada Desember ini dengan 622 kasus. Kementerian Kesehatan mencatat 169 kabupaten/kota di 29 provinsi mengumumkan kejadian difteri per Desember ini meningkat dari sebulan sebelumnya 95 kabupaten/kota.

Menjelang masuk tahun 2018, yang biasanya di jemput dengan berbagai macam perayaan mulai dari zikir, doa bersama bahkan sampai pada perayaan dengan beragam pernak-perniknya seperti terompet dan kembang api, Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi melakukan sebuah refleksi masalah kesehatan tahun 2017.

Team kajian Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Ns. Sarifudin, S.Kep dalam evaluasinya yang menjelaskan tentang kejadi difteri di Indonesia kerena menjadi sorotan bukan hanya masyarakat Indonesia sendiri tapi juga dunia internasional, mengungkapkan bahwa ada dua hal sehingga difteri ini menjadi riuh diperbincangkan. Faktor pertama karena kasus ini dikategorikan sebagai bencana nasional, faktor kedua dilihat dari posisi dan peran indonesia di dunia internasional. Pada bulan Desember 2017 telah diselenggarakan pertemuan Tingkat Menteri Kesehatan Negara-negara OKI, di Jeddah Arab Saudi. Hasil pertemuannya menetapkan Indonesia sebagai Centre of Excellence (Pusat Penelitian Bersama) untuk bidang vaksin dan Bioteknologi. Posisi indonesia sebagai Centre of Excellence inilah yang menjadi sorotan dunia internasional, karena difteri tak bisa dilepaskan dari vaksin. Selain itu, kita sebagai negara yang sebelumnya selalu mengekspor vaksin ke 36 negara mayoritas beragama Islam akhirnya harus di mengimpor dari india karena adanya kasus KLB difteri ini.

Dalam perayaan menyambut tahun 2108, Sarifudin menjelaskan bahwa pernak-pernik tahun baru seperti terompet bisa meningkatkan penyebaran difteri, hal ini karena proses pembuatan, penjualan dan penggunaan terompetnya.

Seperti diketahui bahwa difteri adalah jenis penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri bernama Corynebacterium diphtheriae di selaput lendir hidung dan tenggorokan. Difteri sangat mudah menular dari seorang yang sebelumnya telah terinfeksi. Salah satu media  penularan bakteri ini adalah melalui udara, yaitu saat pengidap difteri batuk atau bersin. Selain itu, interaksi langsung dengan luka akibat difteri juga dapat menularkan virus.

“Penggunaanya (terompet) dengan cara ditiup, bisa dengan mudah untuk menularkan bakteri dari penderita difteri, apalagi proses pembuatannya yang di tes/di coba terlebih dahulu oleh pembuat dan pembeli hal ini bisa meninggalkan cairan/lendir yang akhirnya bisa menular kepembeli yang tidak mengidap difteri.

Meskipun dengan kasus difteri ini pemerintah mengadakan pemberian ORI (Outbreak Response Immunization) atau imunisasi penanganan kejadian luar biasa pada daerah yang terkena kasus difteri untuk menanggulangi wabah difteri yang terjadi di Indonesia, sarifudin menjelaskan bahwa Dengan grafik yang masih menunjukan peningkatan, kasus difteri masih akan menjadi masalah kesehatan utama ditahun 2018. (sy)